LEGENDA TULANG RAKSASA
Desa Kutuh adalah salah satu desa yang terletak di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Desa yang memiliki dua banjar adat, yakni banjar Kutuh dan Angansari yang terbilang sangat tenang dan asri.
Desa Kutuh memiliki banyak mitos yang masih dipercaya oleh masyarakat setempat sampai saat ini. Selain mitos, desa ini juga memiliki keindahan alam yaitu berupa air terjun. Masyarakat Desa Kutuh memanfaatkan air terjun ini sebagai sarana rekreasi keluarga. Selain dikenal dengan keindahannya, di air terjun juga ditemukan fosil yang dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai tulang raksasa. Selain itu, sampai saat ini di dekat lokasi air terjun ditemukan tiga lobang yang dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai tempat pembakaran tulang raksasa. Hasil pembakarannya akan digunakan sebagai “pamor” untuk membangun rumah.
Cerita ini dimulai dari Desa Tubuh yang sekarang menjadi bagian Desa Kutuh. Dahulu kala, di Desa Tubuh terdapat raksasa yang menyamar sebagai manusia. Masyarakat Desa Tubuh pada awalnya tidak menyadari keberadaan raksasa di desa mereka. Raksasa hidup tenang dan nyaman dengan masyarakat yang ada di Desa Tubuh. Hingga pada suatu hari, raksasa diundang kepersiapan piodalan di Pura. Di sana ia disuruh untuk memarut kelapa dan tangannya pun berdarah akibat terkena parutan kelapa. Serentak masyarakat di sana menyuruh raksasa untuk menghisap darahnya dan raksasa pun menghisapnya. Darah yang dihisapnya terasa manis dan mulai saat itu ia menyukai darah manusia. Karena kesukaannya dengan darah manusia, semenjak saat itu Desa Tubuh mulai kehilangan satu demi satu penari rejang.
Dalam pelaksanaan piodalan, diharuskan untuk menarikan Tarian Rejang Dewa. Tari Rejang adalah tarian sakral yang ditarikan oleh gadis – gadis belia di Desa Tubuh. Jika tari rejang dipentaskan, akan ada kabut tebal secara tiba-tiba dan setelah kabut selesai penari yang urutannya paling belakang akan menghilang. Hal ini selalu terjadi setiap piodalan di Desa Tubuh.
Hingga pada akhirnya, masyarakat Desa Tubuh memiliki ide untuk mengikat kaki penari paling belakang dengan benang. Saat selesai menarikan Tari Rejang, penari yang urutannya paling belakang akan menghilang. Tetapi, karena kaki penari paling belakang telah diikat oleh benang, sehingga masyarakat bisa mengikuti benang tersebut.
Setelah mengikuti benang tersebut, masyarakat Desa Tubuh terkejut karena mereka sampai di depan sebuah goa yang akhirnya diketahui sebagai gua raksasa. Semenjak kejadian itu, masyarakat Desa Tubuh mengetahui bahwa selama ini penari rejang diculik oleh seorang raksasa yang menyamar sebagai rakyat.
Setelah mengetahui adanya raksasa di Desa Tubuh, masyarakat Desa Tubuh sepakat untuk mengumpulkan ijuk dan cabe yang diletakkan di depan goa raksasa. Setelah semua ijuk dan cabe terkumpul, mereka membakarnya. Asap mengepul ke dalam goa, sehingga raksasa melarikan diri dari goanya.
Raksasa melarikan diri kearah timur menuju Air Terjun Kutuh. Ternyata, masyarakat Desa Tubuh juga sudah membuat jebakan di depan goa raksasa. Jebakannya berupa bambu runcing yang ditancapkan di tanah.
Jebakan yang sudah disiapkan oleh masyarakat Desa Tubuh ini membuat raksasa mengeluarkan darah dan menetes ke tanah. Sehingga tanah yang dilewati oleh raksasa tersebut akan berwarna merah dan sampai saat ini daerah tersebut dikenal sebagai “tanah barak”. Daerah tanah barak ini terletak di sebelah tenggara Desa Kutuh.
bole tanya?
BalasHapusdalam mitologi ini nama raksasanya siapa?
alasan judulnya dgunakan legenda tulang raksasa knp?