Keberadaan Pura yang ada di wilayah Desa Kutuh, Kintamani, Bangli berkaitan dengan sejarah sebelum terbentuknya Desa Kutuh. Kebaradaan pura-pura ini diyakini oleh masyarakat Desa Kutuh sebagai pura yang pingit ( sangat sakral ) dan memiliki keunikan tersendiri. Keunikan ini terlihat pada upacara tertentu ketika nunas tirta ( meminta air suci ) yaitu pada batu ataupun batang daun yang diyakini bisa mengeluarkan tirta dan terjadi pada sasih purnama kelima sebelum ngusaba gede di pura. Proses nunas tirta ini dilakukan di tengah hutan di Pura Puseh. Tidak sembarang orang bisa mengambil tirta tersebut. Orang yang bisa nunas tirta hanyalah Jero Kubayan (pemimpin keagamaan),Jero Sinoman / Jero Saya, Pecalang , dan Teruna Bunga. Dengan melakukan persembahyangan terlebih dahulu ditempat itu, maka tirta pun akan didapatkan. Pantangan untuk nunas tirta ini yaitu tidak boleh ada orang yang menstruasi atau orang yang baru mengenal rasa sayang terhadap lawan jenis. Apabila orang tersebut ikut, maka tirta tidak akan didapatkan. Pada proses sini teruna bunga harus ada pada saat pengambilan tirta karena apabila tidak ada teruna bunga maka tirta tidak akan medal. Teruna bunga itu sendiri adalah anak-anak yang masih seumuran anak kelas 2 SD.
Mekiis di Desa Kutuh yaitu pada sasih kedasa setelah nyepi, berbeda dengan daaerah lain yang mekiis sebelum nyepi. Tempat untuk mekiis itupun jarang ke pantai. Tarian khas di saat piodalan yaitu tari baris, tari jojor, tari perisi.
1. Pura pekarangan
Pura ini merupakan pura pusat saat Desa Kutuh masih bernama Lengkayan dan warganya masih berjumlah 46 kk (setiman keteng). Lengkayan merupakan nama dari sekumpulan orang yang memiliki cerita unik dibalik keberadaan warganya. Warga Lengkayan memusatkan pemerintahannya di pura pekarangan.
Menurut cerita, warga Lengkayan ini memiliki kekebalan yang tidak bisa dilukai oleh benda tajam. Namun karena kekebalan yang dimilikinya, warga Lengkayan menjadi angkuh dan sering membuat kejailan yang membuat marah Raja Buleleng pada waktu itu. Akhirnya, Lengkayan di serang oleh Kerajaan Buleleng dan Kerajaan Bangli dan membuat warga Lengkayan melarikan diri keluar dari desa.
Pada saat akan meninggalkan desa, warga Lengkayan mengubur Gong abarung. Konon, gong abarung ini merupakan pratima dari warga lengkayan itu sendiri. Sampai saat ini, di Pura Pekarangan diyakini bahwa gong abarung tersebut masih terkubur dan tidak ada satu orangpun yang berani menggalinya.
2. Pura Bukit
Pura Bukit adalah pura yang terletak di puncak bukit Desa Kutuh. Setiap warga yang ingin tangkil ke Pura Bukit haruslah melewati jalan berliku dan semak belukar. Sepanjang perjalanan warga yang akan tangkil ke Pura Bukit tidak diijinkan untuk meludah ke arah timur. Konon katanya, jika seorang warga meludah ke arah timur maka akan terjadi hal negatif terhadap orang tersebut. Seperti hal nya jatuh terperosok ke jurang ataupun orang tersebut akan melihat ular.
Setiap piodalan di Pura Bukit, banyak warga dari beberapa daerah tangkil ke Pura Bukit. Bukan hanya warga Desa Kutuh saja yang tangkil kesana, tetapi warga Desa Madenan, Desa Kutuh-Ubud, Desa Tihingan-Badung, Tejakula, dan Desa Sulangai-Badung juga akan tangkil disaat piodalan di Pura Bukit.
Begitu banyaknya warga yang tangkil ke Pura Bukit sebenarnya tidak berbanding lurus dengan besar pekarangan Pura Bukit. Tetapi, hal ini yang membuat Pura Bukit menjadi sangat spesial, karena seberapa banyakpun warga yang tangkil kesana, Pura Bukit pasti akan menampung semuanya tanpa harus berdesakan.
3. Pura Padang Sampian
Pemandangan yang indah akan sangat dinikmati jika akan berkunjung ke Pura Padang Sampian. Pura yang terletak di sebelah utara Desa Kutuh ini mengharuskan warga yang akan tangkil melewati tangga yang jumlahnya tidak sedikit. Meskipun begitu, para pamedek pura tidak akan merasa kelelahan karena mereka akan disuguhi pemandangan yang sangat indah. Bukit, pantai, dan pepohonan bisa menjadi alat cuci mata para pamedek pura sebelum sampai ke Pura Padang Sampian.
Selain dengan keindahannya, Pura Padang Sampian juga memiliki keunikan tersendiri. Masyarakat setempat mempercayai bahwa tirta Pura Padang Sampian keluar secara ajaib. Di Pura Padang Sampian terdapat sebuah batu, permukaan batu tersebut berongga dan dipercayai bahwa tirta dari Pura Padang Sampian itu keluar dari batu tersebut.
Untuk mendapatkan tirta di Batu tersebut, warga Desa Kutuh biasanya mengajak Pemuka agama setempat. Di dalam prosesnya, pemuka agama setempat akan menancapkan dupa di rongga-rongga batu tersebut. Setelah menghaturkan pemujaan disertai mantra, maka air akan keluar dari rongga-rongga yang ada di batu tersebut. Air yang keluar dari rongga-rongga batu tersebut dipercaya sebagai tirta dan akan digunakan pada saat piodalan.
Sejarah ditemukannya pura ini juga bisa dikatakan unik. Dikatakan bahwa dulu, ada seorang ibu yang bernama Meme Caya mengalami kerasukan (kerauhan) selama beberapa hari. Pada saat kerasukan tersebut, beliau mengatakan bahwa ada sebuah pura yang bertempat dilereng Bukit Batu Pusut. Kemudian beliau menunjukkan jalan ke pura tersebut kepada warga desa disertai para Pangulun Desa. Akhirnya, bersama warga desa serta Pangulun Desa, beliau menemukan sebuah Pura yang akhirnya diberi nama Pura Padang Sampian Mas. Nama Pura Padang Sampian itu sendiri sebenarnya berasal dari nama Pura Padang Sampian Emas. Kata “sampian mas” itu berasal ketika sejumlah warga pernah melihat anak kecil yang bermain menggunakan sampian mas dan kata “padang” digunakan karena di bukit tersebut terdapat banyak padang atau rumput. Sehingga, sekarang pura tersebut dinamai Pura Padang Sampian. Diyakini pula bahwa yang melinggih atau berstana di Pura Padang Sampian adalah Ida Batara Alit; seorang anak kecil yang suka bermain dengan sampian mas. Dipercaya oleh warga setempat, sebelum tangkil ke Pura Padang Sampian, pamedek tidak diperkenankan memakan daging babi karena Ida Betara Alit dipercaya tidak menyukai Suku Pat atau binatang berkaki empat.
4. Pura Tubuh
Pura Tubuh terletak di Barat Daya pusat Desa Kutuh, untuk mencapai pura tersebut, kita bisa menggunakan motor dan kira - kira 2 kilometer dari pusat Desa Kutuh.
Sejarah dari Pura Tubuh ini, diceritakan dahulu kala ada satu desa yang bernama Desa Tubuh. Masyarakat sekitar membuat pelinggih sebagai tempat pengayatan untuk leluhur. Dari tahun ke tahun Desa Tubuh menjadi satu bagian dari Desa Kutuh karena di Desa Tubuh dahulu terjadi grubuk (kesakitan hingga terjadi kematian terus – menurus yang tidak sewajarnya) menyebabkan banyaknya mayat/layon sehingga, masyarakat Desa Tubuh tidak mampu membawa ke Kuburan/Setra. Karena kerjadian tersebut, maka masyarakat Desa Tubuh meminta bantuan pada masyarakat Desa Lengkayan (yang sekarang berubah nama menjadi Desa Kutuh). Karena terlalu banyaknya yang meninggal tidak wajar, sehingga semakin banyaknya bantuan yang diperlukan, hal itu menyebabkan masyarakat Desa Tubuh merasa tidak enak dan diberikanlah imbalan berupa tanah kubur/setra. Musibah Grubuk ini, membuat masyarakat Desa Tubuh menjadi sangat sedikit dan akhirnya Desa Tubuh berkeinginan menggabungkan wilayahnya ke Desa Langkayan (Desa Kutuh).
Keunikan Pura Tubuh adalah sebagai sejarah Tari Rejang yang penarinya hilang dimakan oleh Raksasa.
5. Pura Yeh Bui
Pura Yeh Bui terletak di barat pusat Desa Kutuh. Untuk mencapai pura tersebut, kita bisa berjalan kaki dengan berjalan di setapak jalan yang kira – kira 1 kilometer dari pusat Desa Kutuh. Ada 2 jalan setapak untuk mencapai pura Yeh Bui yang pertama, terletak di timur dari pura tersebut dan yang kedua terletak di barat pura.
Sejarah dari Pura Yeh Bui ini, diceritakan dari mitos masyarakat dari dulu akan kepercayaan air dari lubang batu yang ada di pura tersebut dipercaya dan disakralkan menjadi air tirta suci sehingga dibuatkan pelinggih.
Keunikan Pura Yeh Bui adalah air pancoran yang ada di pura tersebut bisa kita minum secara langsung tanpa di masak dan kita bisa melukat secara langsung di pura tersebut. Air di Pura Yeh Bui tersebut sangat murni dan menyegarkan, sehingga jika kita ke pura tersebut maka kita akan tertarik untuk melukat di Pura.
Piodalan di Pura Yeh Bui ini, setiap purnama sasih karo diikuti seluruh Desa Adat Kutuh, Namum masyarakat sekitar tidak hanya di odalan saja sembahyang/ maturan di Pura Yeh Bui, setiap purnama dan tilem masyarakat rutin sembahyang/ maturan di Pura tersebut.
6. Pura Sang Tengah
Di ceritakan ada pasemetonan 2 orang yang memiliki kasta gusti, namun tidak diketahui asalnya dari Klungkung atau Gianyar karena sumber tertulisnya tidak ada. Kedua orang itu, sebagai yang lebih tua (kakak) bernama Gusti Maruti dan arinya (adiknya) bernama Gusti Kaler Kapacekan. Dalam cerita Gusti Kaler Kapacekan mempunyai istri yang sedang mengandung atau “beling” dalam istilah Bali.
Singkat cerita, tidak diketahui oleh narasumber apa yang diperebutkan antara Gusti Meruti dengan Gusti Kaler Kepacekan, keduanya berperang. Kemudian melarikan diri hingga sampai ke wilayah Desa Lengkayan. Sesampainya di Lengkayan bertemu dengan warga Desa Lengkayan. Karena warga merasa kasihan, istri yang sedang hamil tersebut “saubanga“ di Desa tersebut. Sedangkan suaminya Gusti Kaler Kepacekan terus di kejar dan berperang dengan Gusti Maruti sampai di suatu tempat yang sekarang bernama Pura Sang Tengah. Di tempat itu Gusti Kaler Kepacekan “sepega” atau di bunuh dengan menggunakan pedang oleh Gusti Maruti. Namun ketika itu terjadi, Gusti Kaler Kepacekan menghilang ketika ingin di bunuh dan menurut penuturan narasumber, Gusti Kaler Kepacekan mencapai moksa di Pura Sang Tengah. Sedangkan Gusti Maruti “ngambul” dan menuju ke arah utara membawa barang yang dibawanya yaitu sebuah pedang. Pedang tersebut di buang kearah gunung dan seketika bukit gunung tersebut putus terbagi menjadi dua bagian. Beliau terus berlari sampai ke wilayah Kabupaten Negara.
Seiring berjalannya waktu, para pengikut beliau mencari tempat dimana dulunya Gusti Kaler Kepacekan mencapai moksa dan tempat dimana pedang itu dibuang yaitu di daerah yang dinamakan Bukit Kembar, kemudian dibuatkanlah pelinggih di tempat tersebut. Di buatkan 2 buah pelinggih yaitu pelinggih Ida Betara budha di Pura Sang Tengah dan pelinggih Ida Betara Siva di Pura Bukit. Para pengikut beliau dari daerah Bondalem ingin “mendak” Ida Betara dari Pura Sang Tengah ke daerah Bondalem. Namun, banyak terjadi kerasukan dan berteriak –teriak sebagai tanda bahwa beliau tidak ingin di “pendak” (di ajak) ke daerah bondalem. Kemudian dikembalikanlah beliau ke Pura Sang Tengah dengan iringan Gong Bali. Oleh karena itu, setiap ada odalan di Pura Tengah banyak warga dari berbagai daerah datang untuk sembahyang. Terdapat sekitar 650 kk sembahyang disana.
7. Pura Dalem Kangin dan Pura Dalem Kauh
Pura Dalem Kangin terletak di utara pusat Desa Kutuh. Jaraknya dari pusat Desa 400 Meter berdekatan dengan setra kangin. Setra dari Pura dalem Kangin ini, sebagai tempat untuk mengubur mayat yang dari masyarakat Desa Kutuh yang meninggal di akibatkan sesuatu hal yang wajar seperti meninggal karena usia atau sakit.
Pura Dalem Kauh terletak di Barat laut dari pusat Desa Kutuh. Jaraknya dari pusat Desa sekitar 2 kilometer. Setra dari Pura dalem Kauh ini, sebagai tempat untuk mengubur mayat yang dari masyarakat Desa Kutuh yang meninggal di akibatkan sesuatu hal yang tidak wajar. Tidak wajar tersebut dibagi menjadi 3 bagian yaitu
Salah pati : kecelakaan
Ulah pati : bunuh diri
Salah padewasaan : meninggal disaat hari buruk menurut kalender bali.